Tampilkan postingan dengan label ungkapan nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ungkapan nasihat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2009

Pikirkan dan Syukurilah

Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang spele,sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan jalan terus menerus tiada henti? Apakah Anda mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan suatu ketika patah?

Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap,keika sanak saudara di sekitar kita masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkah Anda merasa nista manakala dapat menyanta makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar kita yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?

Coba pikirkan,betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan kita dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kita yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit kita yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak kita yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.

Adakah kita ingin menukar mata kita dengan emas sebesar gunung uhud, atau menjual pendengaran kita dengan seharga perak satu bukit? Apakah kita mau membeili istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah kita,hingga kita bisu? Maukah kita menukar kedua tangan kita dengan untaian mutiara, sementara kita bunting?

Begitulah, sebenarnya kita berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tetapi kita tidak menydrinya. Kita tetap merasa resah,suntuk,sedih,dan gelisah meskipun kita masih mempunyai nasi hangat untuk di santap,air segar untuk di teguk,waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.

Kita acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya kita masih memegang kunci kebahagiaan,memiliki jembatan pengantar kebahagian, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah!

Senin, 22 Desember 2008

Jawaban Sederhana Penuh Makna

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat.
Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?
"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhkumenjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ... Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu abang pisahkan ? Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, saya sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Saya hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita penyempurnaan iman ". "Maksudnya.. ..?", saya melanjutkan bertanya.
"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Saya membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :
  1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari saya dan keluarga.
  2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
  3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka saya berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, saya harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insyaAllah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat...........sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si Abang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....". Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Saya justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.

Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".

"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".
+ Wi2d -

-dari milist IMIKI (Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia)

Rabu, 10 Desember 2008

Cinta Dan Terima kasih

Cinta dan terima kasih. Dua kata yang sangat sederhana. Namun, kesederhanaannyalah yang membuat kita sering melupakannya. Sering mengabaikannya. Sering meremehkannya. Padahal kedua kata itu mampu membangkitkan rasa 'penghargaan'. Karena cinta, kita merasa disayangi. Karena cinta, kita merasa hidup. Karena cinta, kita merasa bernyawa. Karena cinta, kita merasa dihargai. Karena cinta, kita merasa dibutuhkan. Karena cinta, kita tidak memerlukan pamrih. Yah, cinta adalah refleksi ketulusan.

Begitupun juga dengan terima kasih. Ada rasa penghargaan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa penghormatan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa kesetaraan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa saling membutuhkan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa kerendahhatian dalam ucapan terima kasih. Tidak ada keegoisan dalam ucapan terima kasih. Tidak ada kesombongan dalam ucapan terima kasih. Tidak ada yang merasa lebih dalam ucapan terima kasih. Tidak ada yang merasa kurang dalam ucapan terima kasih. Yah, kata terima kasih adalah refleksi bahwa kita saling membutuhkan.

Sudahkah hari ini kita mengucapkan kata cinta pada orang-orang yang terdekat dengan kita? Kepada kedua orang tua kita, kepada adik kita, kepada kakak kita, kepada nenek kita, kepada kakek kita, kepada suami kita, kepada isteri kita, kepada sahabat kita, kepada teman-teman kita. Banyak cara sebagai ungkapan cinta. Perhatian, hadiah, senyuman, adalah bentuk lain ungkapan cinta.

Akan lebih bermakna, jika cinta diungkapkan dengan bahasa lisan. Minimal pada orang-orang yang menjadi sumber kekuatan jiwa kita. Kedua orang tua kita, suami atau isteri kita, anak-anak kita, kakak dan adik kita. Bukankah Rasulullah telah mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya cinta diungkapkan dalam bahasa ketulusan ketika kedua cucunya menaiki punggung beliau ketika beliau sedang menunaikan shalat? Beliau tidak memarahi, apalagi membentak. Beliau membiarkan.

Sudahkah hari ini kita mengucapakan terima kasih pada orang-orang di sekitar kita? Kepada cleaning service yang telah menunaikan tugasnya, sehingga ruangan kita terasa nyaman untuk beraktivitas.

Kepada sopir angkot atau sopir pribadi yang telah mengantarkan kita menuju ketempat aktivitas setiap pagi. Kepada bibi yang telah membantu kita selama belasan tahun menyelesaikan sederetan pekerjaan rumah tangga. Terutama kepada orang-orang yang kita cintai -kedua orang tua kita, suami, isteri, kakak, adik, anak-anak-, sudahkan kata: terima kasih terucap dari lisan kita?

Terutama dan paling utama, sudahkah rasa cinta dan terima kasih kita lantunkan dari bibir ini untuk Sang Pemilik Jiwa kita? Allah Subhanallah Wa Ta'ala.


Terima kasih Allah untuk karuniamu hari ini?
Bapak ibu, saya sayang bapak dan ibu?
Bapak ibu, terima kasih untuk cinta kasihnya pada saya?
dll

Saya baru belajar mengungkapkan rasa cinta dan terima kasih saya. Tertatih-tatih bahkan. Terbata-bata kadang.

..::Luqmanul Karomah::..

Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian

Valentino Dinsi lewat bukunya "Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian"

Terus terang, saya belum selesai membaca buku ini. Tapi membaca judulnya saja, saya sudah sangat terinspirasi.

Hm... saya memang tidak pernah menghitung secara pasti. Tapi fakta berbicara bahwa tak ada karyawan atau pegawai negeri yang bisa jadi kaya raya, kecuali (menurut buku Valentino Dinsi) jika mereka:

1. mendapat warisan

2. menikah dengan orang kaya

3. menang undian

4. punya bisnis sampingan

5. korupsi

Tambahan dari saya:

6. meminta bantuan jin


Hm lagi... berapa gaji Anda saat ini? Katakanlah Rp 5 juta perbulan. Ini adalah jumlah yang cukup besar, sebab gaji saya di CBN dulu masih jauh di bawah itu.

Tahukah Anda berapa harga Anda dalam sejam? Untuk gaji Rp 5 juta perbulan, tenaga Anda dihargai Rp 30 ribu perjam! Ini masih menurut hitung-hitungan di buku Valentino Dinsi, lho....

Lagi-lagi hm... masihkah Anda bangga terhadap gaji Rp 5 juta bahkan 10 juta perbulan?

Terima kasih banyak, sahabatku. Ucapan kamu dulu itu memang benar banget!

Saya juga makin yakin dengan bunyi salah satu hadits:

"Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah dari berdagang."


..:: Luqmanul Karomah::..

Kitapun Akan Menjadi Tua Nantinya

"Hidup bagaikan garis lurus
Tak pernah kembali ke masa yang lalu
Hidup bukan bulatan bola
Yang tiada ujung dan tiada pangkal...."

Syair lagu diatas, sering kita dengar dari lantunannya Bimbo, liriknya mengingatkan kita akan sebuah akhir. Kehidupan ini tidak akan berlangsung abadi, hingga suatu saat kita akan menaiki tangga usia, semakin lama usia kita bertambah, semakin berkuranglah sisa umur kita dan andai Tuhan belum memanggil kita di usia muda maka kitapun akan menjadi tua.

Melihat garis-garis di wajah sosok yang kita cintai ibu dan ayah kita, ketika kulitnya mulai keriput, rambut hitamnya mulai memutih dan kesehatannya kian menyusut, kita diingatkan oleh-Nya bahwa kitapun sama, suatu saat nanti akan menjadi tua, renta dan butuh begitu banyak pertolongan, kasih sayang serta perhatian dari anak-anak kita.

Dan sekaranglah saatnya bagi kita untuk memainkan peran sebagai seorang anak, memelihara dan menyayangi ayah dan ibu kita. Dahulu sembilan bulan kita dalam rahim ibu, kita menyusahkannya, duduk ia tak enak, berbaring tak nyaman. Tapi ibu sabar menanti hari-hari kelahiran kita.

Tiba kita di dunia, ibu tersenyum bahagia mendapatkan kita sebagai anugerah dari Tuhan, disusuinya, dimanjakannya dan dibesarkannya kita dengan penuh kasih sayang. Diajarkannya kita berbagai ilmu dan sebuah kenikmatan yang luar biasa bagi kita diajarkan untuk mengenal Tuhan.

Menginjak remaja, kita semakin menyusahkannya, biaya sekolah yang kian besar serta kenakalan-kenakalan yang sering kita lakukan tak jarang membuat hati ibu terluka. Sikap kita yang kasar, egois dan selalu merasa benar terkadang membuatnya menangis, tapi ibu tetap sabar. Dibimbingnya kita untuk memperbaiki sikap dan tingkah laku kita, ibu selalu menanamkan cinta kepada kita anak-anaknya.

Berbahagialah bagi yang masih mempunyai ibu juga ayah, karena masih mempunyai kesempatan untuk memelihara dan menyayangi mereka. Dan saat kita menginjak dewasa, ketika ayah yang dulu kekar sekarang sering terbaring sakit, dan ketika ibu yang dulu selalu melayani kita makan sekarang sering terbaring lemah, inilah saat-saat yang baik bagi kita untuk memuliakan mereka, melayani, memelihara dan memberikan perhatian kepada mereka. Inilah kesempatan kita untuk menjadi anak yang shaleh buat mereka bahagia di ujung usianya, dan buat mereka bangga dengan kita. Ingatkah, dahulu ketika kebetulan kita terbangun dari tidur, terlihat ibu sedang berdoa untuk kita, agar menjadi anak yang baik dan tercapai semua cita.

Jenguklah ibu dan ayah kita selagi bisa, sebelum semuanya berakhir menjadi kenangan, bawakan oleh-oleh yang disukainya. Sebab jika mereka telah tiada maka tak akan ada lagi yang menunggu kita pulang, tak ada lagi menyiapkan kita sarapan, yang ada hanyalah rumah yang akan menjadi kenangan.

"Muliakanlah, hargailah dan hormatilah Orang tua kita karena kitapun akan menjadi tua"

ini aku ambil dari blog yang aku lupa namanya... padahal tulisan ini sudah ada sejak lamaaaaaa sekali di file komputerku.

tapi cukup mendalam.. sebenernya pengen ijin biar ga dikata "klepto", tapi gmn donk.....

mudah-mudahan yang bikin tulisan ini mengijinkan.hehehehe.......