Cinta dan terima kasih. Dua kata yang sangat sederhana. Namun, kesederhanaannyalah yang membuat kita sering melupakannya. Sering mengabaikannya. Sering meremehkannya. Padahal kedua kata itu mampu membangkitkan rasa 'penghargaan'. Karena cinta, kita merasa disayangi. Karena cinta, kita merasa hidup. Karena cinta, kita merasa bernyawa. Karena cinta, kita merasa dihargai. Karena cinta, kita merasa dibutuhkan. Karena cinta, kita tidak memerlukan pamrih. Yah, cinta adalah refleksi ketulusan.
Begitupun juga dengan terima kasih. Ada rasa penghargaan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa penghormatan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa kesetaraan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa saling membutuhkan dalam ucapan terima kasih. Ada rasa kerendahhatian dalam ucapan terima kasih. Tidak ada keegoisan dalam ucapan terima kasih. Tidak ada kesombongan dalam ucapan terima kasih. Tidak ada yang merasa lebih dalam ucapan terima kasih. Tidak ada yang merasa kurang dalam ucapan terima kasih. Yah, kata terima kasih adalah refleksi bahwa kita saling membutuhkan.
Sudahkah hari ini kita mengucapkan kata cinta pada orang-orang yang terdekat dengan kita? Kepada kedua orang tua kita, kepada adik kita, kepada kakak kita, kepada nenek kita, kepada kakek kita, kepada suami kita, kepada isteri kita, kepada sahabat kita, kepada teman-teman kita. Banyak cara sebagai ungkapan cinta. Perhatian, hadiah, senyuman, adalah bentuk lain ungkapan cinta.
Akan lebih bermakna, jika cinta diungkapkan dengan bahasa lisan. Minimal pada orang-orang yang menjadi sumber kekuatan jiwa kita. Kedua orang tua kita, suami atau isteri kita, anak-anak kita, kakak dan adik kita. Bukankah Rasulullah telah mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya cinta diungkapkan dalam bahasa ketulusan ketika kedua cucunya menaiki punggung beliau ketika beliau sedang menunaikan shalat? Beliau tidak memarahi, apalagi membentak. Beliau membiarkan.
Sudahkah hari ini kita mengucapakan terima kasih pada orang-orang di sekitar kita? Kepada cleaning service yang telah menunaikan tugasnya, sehingga ruangan kita terasa nyaman untuk beraktivitas.
Kepada sopir angkot atau sopir pribadi yang telah mengantarkan kita menuju ketempat aktivitas setiap pagi. Kepada bibi yang telah membantu kita selama belasan tahun menyelesaikan sederetan pekerjaan rumah tangga. Terutama kepada orang-orang yang kita cintai -kedua orang tua kita, suami, isteri, kakak, adik, anak-anak-, sudahkan kata: terima kasih terucap dari lisan kita?
Terutama dan paling utama, sudahkah rasa cinta dan terima kasih kita lantunkan dari bibir ini untuk Sang Pemilik Jiwa kita? Allah Subhanallah Wa Ta'ala.
Terima kasih Allah untuk karuniamu hari ini?
Bapak ibu, saya sayang bapak dan ibu?
Bapak ibu, terima kasih untuk cinta kasihnya pada saya?
dll
..::Luqmanul Karomah::..

0 comments:
Posting Komentar